http://img.okezone.com/content/2012/04/02/339/604137/BsAwInPa9B.jpg
JAKARTA - Kesatuan Buruh Hanura menilai aksi akrobat politik yang dilakukan partai pendukung pemerintah pada sidang paripurna RUU APBN-P 2012 beberapa waktu lalu, melahirkan tanda tanya besar di masyarakat.
“Isu rencana kenaikan BBM yang digulirkan pemerintah membuat masyarakat resah, aksi protes menentang kenaikan BBM berakhir dengan kericuhan dan bentrokan. Ditambah lagi naiknya beberapa kebutuhan pokok, sungguh rencana kebijakan yang menguras energi masyarakat,” kata Ketua Umum Kesatuan Buruh Hanura, Kusuma Soekasah dalam keterangannya, Senin (2/4/2012).
Dia mengatakan, pemerintah saat ini tampaknya lebih takut terhadap harga pasar daripada rakyatnya sendiri. Terlebih langkah-langkah wakil rakyat yang tergabung ke dalam Setgab Koalisi, lebih tertarik membahas transaksi politik ketimbang menimbang urusan kesejahteraan rakyat.
Menurutnya, dengan tidak naiknya BBM pada 1 April 2012, bukan berarti gejolak politik dan ekonomi menjadi abu-abu. “Dengan hasil sidang paripurna yang terlihat abu-abu inilah yang membuat gamang rakyat,” imbuhnya.
Jika melihat pasal 7 ayat 6 a, sungguh ironis wakil rakyat yang tergabung dalam Setgab, secara terangan-terangan menyerahkan hajat hidup rakyat Indonesia pada mekanisme pasar global yang jela bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945. “Kepemimpinan hanya takut dan tunduk pada kepentingan asing dan pasar internasional, dan tidak sama rakyatnya sendiri,” jelasnya.
Oleh karena itu lanjut Kusuma, langkah Fraksi Hanura, PDIP, dan Gerindra merupakan langkah yang konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat. “Hanura sejak awal tegas menyatakan menolak rencana kenaikan BBM dan tidak bicara abu-abu atau transaksional apalagi terlibat dalam dialektika politik,” tegasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar